MOMEN

Jemariku menari-nari di tombol keyboard laptop, mengolah imajinasi liar di kepalaku ke dalam sebuah tulisan. Mataku memandang lurus ke arah layar monitor, memperhatikan kata per kata yang kuketik rapi. Aku terus saja mengetik, menuliskan apa yang kuinginkan. Mengikuti alur plot yang telah kubayangkan sebelumnya. Tokoh laki-laki yang kusebut-sebut dalam tulisanku seperti memanggil namaku untuk terus melanjutkan kisahnya di sana hingga tuntas, sayangnya kepalaku mendadak berat. Imajinasiku buyar semua. Aku kehabisan ide.

Nafasku menghelakan desahnya. Lelah menjadi satu kata yang mendominasi rasaku saat ini. Kebingungan melanda pikiranku. Aku mencari-cari untaian kata yang tepat untuk melanjutkan tulisanku, tapi tak satupun ada yang kutemukan. Mataku yang sayu memandang pesona luar jendela yang berbingkai kecoklatan. Tirai putih tipis yang dibuka dan diikat pada kedua sisi jendela berkibar disapa angin yang masuk pelan-pelan. Senyumku tiba-tiba mengembang saat satu sosok yang kukenal muncul dari sisi jalan yang kulihat dari jendela. Seketika berat kepalaku menghilang.

“Zha, liat apa kamu?” Suara seseorang membuyarkan lamunanku. Memutuskan kontak mataku pada objek yang kupandang.

“Bukan apa-apa.” Aku menyembunyikan kebenaran yang entah tadi terlihat olehnya atau tidak. “Kenapa ke sini?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Zha. Aku tadi lihat kamu senyum-senyum ke arah jendela.” Yang berkata mendongakkan kepalanya ke arah jendela yang terhalang olehku. “Ayolah, katakan yang sebenarnya pada sepupumu tercinta ini.” Matanya berkedip-kedip menggodaku. Aku menggelengkan kepala mengelak untuk mengatakannya. “Eh, jangan-jangan kamu lagi liatin laki-laki yang lagi duduk di taman itu?”

Mataku membulat saat mendengar ucapannya. Aku memperhatikan laki-laki yang ditunjuk oleh sepupuku itu dan kaku sejenak begitu tahu laki-laki yang dimaksud. Lidahku kelu, tapi aku harus mengelak. Ya, aku harus mengelak. Tidak mungkin mengatakannya. Aku terlalu malu untuk jujur.

“Kamu itu bicara apa, Ria.” Aku memasang raut wajah tak suka. Menutupi rasa malu yang menghampiriku.

“Ih Tyzha, kamu mau ngelak dariku ya? Tidak bisa loh.” Ria mencubit pipiku pelan. “Kamu itu nggak pinter bohong.”

“Sudahlah, Ria. Kamu hobi sekali mengangguku.”

“Habis kamu serius banget di depan laptop. Setiap aku datang ke sini selalu diabaikan.”

“Aku mengejar deadline tulisanku, Ri. Kalau tidak diangsur sekarang nanti keteteran di akhir. Bisa stress aku.”

“Tapi nggak bosen seharian ini di depan laptop terus? Ayo kita ke taman depan. Refreshing sebentar sebelum kamu ngelanjutin buat novelnya. Siapa tahu bisa dapet inspirasi di sana.” Ria memegang lenganku, menariknya pelan.

“Eh tapi…” aku memandang laptop, Ria dan jendela kamarku bergantian. “itu…”

“Ayolah, Zha.”

“Baiklah-baiklah.” Dan akhirnya aku mengalah.

Aku mematikan laptopku setelah menyimpan dokumen ceritaku. Ria senang sekali melihat aku menurutinya. Mungkin aku memang butuh jalan-jalan sejenak untuk menyegarkan pikiranku. Berada di kamar seharian memang membosankan. Ah Ria ini, tahu saja yang aku butuhkan.

***

Sore menjelang seiring angin bertiup membelai lembut dedaunan pohon-pohon. Taman masih cukup sepi seperti biasanya. Aku berjalan pelan menuju bangku taman tempat biasanya aku menghabiskan sore di akhir pekan sambil menyalurkan hobiku menggambar sketsa. Sudah hampir setahun kegiatan rutin akhir pekan ini aku jalani, bangku taman yang menjadi tempatku menghabiskan sore ini juga menjadi salah satu tempat favoritku dikala jenuh atau penat.

Aku mengeluarkan buku sketsa yang hanya tinggal tiga lembar kosong dan berbagai peralatan yang lainnya dari dalam tas, menatanya di atas meja taman, bersiap memulai menggambar. Aku memandang sekeliling, memperhatikan satu persatu benda sekitar taman yang bisa kulihat dan bisa jadi inspirasi untuk sketsa selanjutnya. Salah satu sudut yang menjadi favoritku adalah salah satu rumah yang tepat berada di seberang jalan taman, tepat di depan bangku tempatku duduk kini. Taman mini sederhana mengelilingi rumah tersebut yang semakin membuatnya enak dipandang karna pagar tanaman yang tak terlalu tinggi. Disudutnya nampak jelas sebuah ruangan berbingkai gorden putih yang tersibak, menampilkan sebuah sosok perempuan berjilbab yang sibuk berkutat di depan laptopnya. Perempuan yang menarik perhatianku akhir-akhir ini, entah kenapa.

Aku mengalihkan pandangan dari sosok yang tiba-tiba juga memandangku dari kejauhan, diikuti pandangan seorang perempuan lain yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Ah, tingkahku kenapa jadi tak jelas begini? Merasakan gugup tanpa alasan.

Demi menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang, aku memulai menggambar sketsaku. Sebuah inspirasi tiba-tiba menyeruak dalam otakku, memaksa tangan bergerak menggambarkannya.
Tak berapa lama menggambar, hp di kantong celanaku bergetar. Tertera nama Faizi di layarnya. Aku mendesah pelan sebelum akhirnya mengangkat telepon dari sahabatku yang rada cerewet satu itu.

“Essa, dimana lu? Gue depan rumah lu nih tapi gak ada orang. Ada yang mau gue sampein ke lu, penting!” Cerocos orang diseberang tanpa basa basi, sesuai perkiraan.

“Kamu tuh ya, Zi, bukannya assalamu’alaikum dulu, malah nyerocos aja” Faizi tertawa pelan mendengar teguranku.

“Iya maaf. Assalamu’alaikum Essa, sekarang lagi dimana sobat?” Tanya Essa lagi.

“Waalaikumsalam.. Lagi di taman, tempat biasa aku menggambar sketsa. Tau kan?”

“Taman kompleks? Jangan bilang kamu menggambar sketsa cewek dibalik jendela itu lagi. Gak bosan apa lu?”

“Hush, apaan sih lu, Zi. Gue lagi bikin sketsa rumah kok.” Bantahku alakadarnya.

“Iya, rumah cewek itu kan?” Godanya lagi

“Lu tuh ya! Udah ah gue tutup telponnya, keburu ide gue mandek ngobrol ama lu.” Protesku kesal mendengar godaannya.

“Eh, tunggu dulu, jangan ngambek dong. Gue kesitu ya, sda kabar baik nih, gak enak kalo gue sampein lewat telpon doang.”

“Ya udah, tapi gak pake gangguin gue pas lagi menggambar ya. Awas aja ntar kalo…”

“Enggak kok, gue cuma pengen ketemu lu aja, gak pake acara ngegodain lagi deh, sumpah!”

“Oke, gue tunggu.” Jawabku menutup pembicaraan.

Aku menoleh lagi ke sudut rumah yang berada tepat beberapa meter di depanku, sosok perempuan itu sudah tidak ada. Aku menghela napas pelan, karena tiba-tiba ide yang sebaru tadi menyeruak, menghilang begitu saja. Entah karna telpon Faizi, entah karna perempuan itu tak lagi dalam pandanganku. Entahlah..

***

Suasana taman semakin sore semakin ramai dengan banyaknya anak-anak kompleks yang bermain atau sekedar membeli jajan pada penjual jajanan keliling yang juga cukup banyak mangkal di sekitar taman. Meski begitu,  sketsaku yg baru seperempat jadi itu tak kulanjutkan karna tak tau kenapa aku jadi tak bersemangat melanjutkannya..

Sudah 10 menit tapi Faizi tak juga kunjung datang padahal jarak rumahku dengan taman ini tak terlalu jauh karna masih satu kompleks. Hanya butuh sekitar 5 menit jalan kaki. Aku melihat sekeliling, ke arah mungkin datangnya Faizi. Orang yang kucari ternyata ada beberapa meter di depanku, tak terlalu jauh dari rumah yang juga tepat di seberang jalan di depanku. Faizi terlihat cukup akrab mengobrol dengan salah satu dari dua orang perempuan berjilbab yang tadi kulihat dibalik jendela kaca. Meski cukup jauh, aku mengenali wajah perempuan itu. Sekitar dua menit setelahnya mereka saling berpisah. Faizi menuju ke arahku yang duduk di bangku taman, sedang kedua perempuan berjilbab itu berjalan ke arah berkumpulnya pedagang jajanan keliling yang sedang ramai dengan para pembelinya.

“Essa” Sapa Faizi saat sudah berada tepat didepanku.

“Eh” Aku menoleh sedikit kaget. Faizi menoleh kearah pandanganku tertuju tadi. Ia lalu tersenyum jahil. “Ngobrol sama siapa lu tadi?” Tanyaku cepat sambil kembali mengalihkan pandanganku pada sketsa dihadapanku.

“Kenapa? Lu pengen ikut ngobrol?” Tanya Faizi menggoda lagi.

“Jawab aja kenapa sih, gak usah pake seringai kayak gitu. Jelek tau” omelku tanpa mengalihkan pandangan.

“Itu tadi Ria. Dia temen sekelas gue pas jaman SMA dulu. Udah lama gak ketemu, gak nyangka bisa ketemu disini, rumahnya ternyata di sekitar daerah sini juga. Yang satu lagi namanya Tyzha, sepupu Ria. Ria lagi berkunjung ke rumah sepupunya yang ada diseberang jalan itu.” Faizi mengambil botol airku yang berada di sudut meja lalu meneguknya beberapa kali. Aku mengangkat wajah, menunggu lanjutan ceritanya. Hampir semenit berlalu, tapi Faizi justru sibuk dengan hp ditangannya.

“Trus?” Tanyaku, tak sabaran. Faizi mengalihkan perhatiannya, memandangku bingung seolah wajahnya mengatakan ‘trus apa?’. Aku mendesah pelan, kembali menatap sketsa yang tak urung kulanjutkan.

“Oh iya,” Aku mengangkat wajah lagi menatap Faizi yang kupikir akan melanjutkan cerita. “besok kita harus ketemu Prof Said. Beliau bilang ada project buat kita berdua. Katanya kali ini fee-nya lumayan buat kantong mahasiswa tingkat akhir kayak kita” lanjut Faizi dengan muka yang cukup girang. Aku melenguh pelan mendengarnya. “Eh, kenapa? Lu gak senang dapat project baru?” Tanya Faizi bingung, lagi. Aku menggeleng pelan, sedikit kurang bersemangat. “Jangan bilang lu mikir gue masih mau cerita soal dua cewek tadi, ya ampun, Essa…” Faizi terbahak melihatku.

“Apaan sih lu, ya enggaklah, ngapain juga” jawabku cepat, mengelak pernyataan Faizi, tak ingin digoda lagi olehnya.

“Ah, pake bohong segala lu. Bilang aja iya. Emang gue gak tau kenapa lu sering bahkan rutin banget ke taman ini, duduk di bangku sini, itu kan karna lu suka sama cewek dibalik jendela rumah itu kan?” Faizi menunjuk rumah dengan taman mini sederhana diseberang jalan. “Cewek itu  Tyzha kan?” Tanyanya lagi dengan nada menggoda.

“Sok tau lu, Zi” jawabku sekenanya sambil menyibukkan tangan melanjutkan sketsa, meskipun aku sendiri tak tau akan jadi seperti apa bentuk sketsa ini nanti.

Faizi kembali terbahak mendengar sanggahanku. “Ah, lu gak pandai bohong, Sa, apalagi sama gue yang udah jadi temen lu dari orok.” Katanya sambil menyeringai menggoda. “Gini deh, gue panggil Ria kesini aja ya, biar kita bisa kenalan” Faizi lalu berdiri dan beranjak menuju kumpulan penjual jajanan keliling dimana Ria dan Tyzha kini berada.

Aku cukup kaget dengan ide Faizi itu meskipun tiba-tiba terbersit harap. “Faizi, lu gila ya? Balik sini” Seruku. Faizi hanya melambaikan tangannya tanpa perduli seruanku. Lantas aku hanya bisa diam, itu anak emang kalau sudah punya ide gak bisa ditahan.

Aku tersenyum, berpikir bahwa mungkin ide itu tidak buruk, justru cukup bagus.. Ah, Faizi emang sahabatku yang paling bisa di andalkan..

***

Ria memegang tanganku dengan erat saat kami menyebrang jalan di depan rumah. Aku sedikit heran, tapi ya sudahlah kalau Ria memang ingin memegang tanganku. Tidak terlalu aneh juga kalau dua orang perempuan saling bergandengan tangan. Sah dan wajar. Lain halnya kalau laki-laki, yah bisa dibayangkan bagaimana ekspresi orang-orang. Tangan kami masih saling bertautan sampai tiba di taman. Mataku terpaku pada sosok laki-laki itu yang duduk pada bangku taman dengan sebuah buku dan pensil di tangannya. Wajahnya tampak serius dengan apa yang dilakukannya. Aku terus memperhatikannya sampai tidak sadar bahwa langkah kakiku terhenti dan tubuhku sedikit tertarik begitu Ria terus berjalan.

“Eh?” Ria memandangku bingung. Wajar saja, aku memilih berhenti di tengah jalan. “Kenapa? Ada sesuatu?”

Aku mengalihkan pandanganku dan menatap ke arah Ria sepenuhnya dengan senyum simpul. “Tidak ada apa-apa. Ayo!” Kali ini aku menarik Ria yang tangannya masih menggandeng dengan tanganku.

Ria sepertinya tidak terlalu penasaran dengan tingkahku tadi. Buktinya dia diam saja dan memandang suasana ramai taman kompleks ini. Angin segar, suasana yang menyenangkan, kurasakan aku benar-benar bisa mendapatkan ide baru di sini. Siapa tahu aku juga mengalami kejadian tak terduga yang bisa menambah jalan ceritaku nanti. Semoga saja.

“Melamun terus, Zha.” Suara Ria memecahkan kesunyian di antara kami berdua. “Padahal maksud ngajakin kamu ke sini bukan untuk didiamin loh.”

“Eee maaf deh, Ria.” Aku mengeluarkan cengiran bersalahku. “Tiba-tiba aja masuk ke taman ini aku ngerasa seneng. Kayaknya aku bakalan dapet banyak ide untuk novelku nanti.” Ungkapku jujur.

Aku menangkap hela lega dan senyum senang di wajah Ria. Mungkin memang tujuannya untuk menyenangkanku. “Syukurlah kalau begitu. Aku ikutan seneng juga. Entar kalau novelmu udah jadi aku yang jadi pembaca pertamanya.”

“Pastilah. Dari sebelum novelku dibuat juga kamu udah bilang mau jadi orang pertama yang baca novel ini.” Aku dan Ria tertawa setelah aku menyelesaikan kalimatku barusan.

Keseruan obrolanku dan Ria tiba-tiba saja terhenti saat seseorang datang menghampiri kami. Aku memandang heran, tidak mengenal dengan sosok laki-laki itu. Berbeda dengan Ria yang mengekspresikan kegembiraan dengan senyum di wajahnya. Rupanya ini teman Ria. Aku melepas gandengan tangan kami yang ternyata masih bertaut.

“Assalamualaikum, Ria. Apa kabar?” Salam sapa si laki-laki itu ramah.

“Waalaikumsalam. Kabar baik, Zi.” Balasan Ria juga terdengar ramah. Sepertinya mereka berteman baik. “Lama tidak ketemu ya. Kabarmu pasti baik.”

“Ya begitulah.” Laki-laki itu terdiam sejenak.

“Oh iya, Zi. Ini sepupuku, namanya Tyzha.” Ria memegang pundakku dan kemudian mengalihkan pandangnya menatap ke arahku. “Zha, ini temen SMA-ku. Faizi.”

“Oh, salam kenal.” Ujarku.

“Salam kenal juga.” Balas Faizi sambil tersenyum. “Kalian ke sini jalan-jalan? Emang tinggal di dekat sini?”

“Iya. Rumahku agak jauh sih dari taman ini, rumahnya Tyzha yang paling dekat. Itu rumahnya persis depan taman.” Ria menunjukkan rumahku pada Faizi. Dasar Ria seenaknya saja memberitahu rumah orang. “Kamu ngapain ke sini? Rumahmu kan jauh dari sini.”

“Oh itu tadi mau ke rumah teman gue di kompleks sini. Ternyata dia ada di taman dan nyuruh gue nyusulin dia ke sini.”

“Temen? Cowok apa cewek?” Ria memandang jahil ke arah temannya itu.

“Cowok temen gue itu. Lu curigaan, Ri.” Wajah Faizi mendadak kesal. “Itu dia, yang lagi duduk mandangin buku sketsa di pojokkan bangku sana.”

Ria tiba-tiba tertawa pelan mendengar jawaban faizi. Sepertinya dia puas menjahili temannya itu. Baru bertemu setelah lama berpisah sudah keluar sifat aslinya Ria dengan teman-temannya. Berbeda dengan Ria yang sibuk meredakan tawa itu, aku sedikit terkejut dengan teman Faizi yang ia tunjuk tadi. Aku menganggap ini sebuah takdir, entah kenapa bisa berkaitan seperti ini. Temannya teman Ria adalah laki-laki di taman yang sering kuperhatikan. Aku sedikit shock, tapi tak tau kenapa aku merasa senang.

“Namanya Essa. Dia teman kuliah satu jurusan di kampus.” Faizi menjelaskan si temannya itu pada kami. Lebih tepatnya ke Ria yang masih tertawa, tapi aku merasa bahwa ini adalah informasi penting yang takdir berikan padaku. “Eh, gue ke sana dulu. Kasian juga dia lama nunggu.”

“Oh iya.” Jawab Ria. Kali ini normal tanpa tawanya.

Kami memandang tubuh Faizi yang mulai menjauh dan menghampiri temannya itu. Aku memandang sejenenak pria bernama Essa itu, sebelum lengan Ria mengapit lengan dan menarikku. Ria berceloteh tentang temannya barusan. Ternyata Ria senang sekali bertemu dengan teman SMAnya itu. Aku turut senang juga, selain karena Ria yang senang, aku bisa mengetahui nama si sosok perhatianku itu tadi. Tak terasa aku tersenyum sendiri.

Ria mengajakku ke kumpulan penjual jajanan. Lapar katanya tadi dan aku menurut saja, toh sepertinya aku juga ingin memakan sesuatu untuk mengisi perutku. Seorang penjual siomay memanggil kami dan menawarkan jualannya. Aku dan Ria setuju untuk membeli di sana. Senyum ramah dari penjualnya cukup menyenangkan saat dia memberikan dua kursi untuk kami duduki.

“Kayaknya ini takdir deh, Zha.” Ujar Ria tiba-tiba. Aku mengerutkan kening tanda bingung dengan ucapannya. “Soalnya aku nggak nyangka kalau temannya Faizi itu  laki-laki yang sering kamu perhatiin dari jendela kamar.”

Aku benar-benar terkejut dengan ucapan Ria. Bagaimana Ria bisa tahu, aku tidak pernah sekalipun memberitahu itu padanya. Sekalipun dia sepupuku, aku terlalu malu untuk mengatakannya. Ria tersenyum saat melihat ekspresiku, tapi dia tidak memandang jahil seperti biasanya.

“Aku tahu loh kalau tokoh dalam novel kamu itu si Essa. Laki-laki taman dengan buku yang selalu menjadi temannya.” Lanjut Ria memaparkan pikirannya padaku. Itu membuatku semakin malu dan salah tingkah. “Zha, kamu suka sama diakan?”

“Sudahlah, Ri. Aku tidak mau membahas itu. Kita kemari untuk mencari inspirasi novelku.” Elakku dan syukurnya siomay yang kami pesan sudah datang. Penjual itu sedikit menginterupsi obrolan kami.

“Baiklah.” Ria berhenti berucap dan mulai menikmati makanannya.

Aku menatap siomay di tanganku, kemudian saat kuangkat kepalaku mataku terhenti ke arah dua laki-laki yang kukenal. Mereka terlihat akrab dan entah obrolan apa yang mereka bicarakan sampai Essa terlihat kesal dengan Faizi. Merasa tak paham, aku melahap siomayku dan tatapan Ria yang lurus padaku membuatku sedikit terkejut.

“Kamu benar-benar menyukainya.” Seru Ria dan aku membelalakkan mataku padanya. Anak ini benar-benar tidak bisa jaga mulut. “Kamu tidak bisa mengelak, Tyzha.” Ria menyebut namaku dengan penekanan. Aku terintimidasi dengan ucapannya.

“Terserah.” Kuabaikan Ria yang memberikan cengirannya. Menikmati siomayku yang jadi terasa hambar, karena ulah Ria. Rasa malu mulai menguasaiku. Dasar Ria.

Mulutku masih penuh dengan makanan begitu Faizi tiba-tiba datang lagi. Aku dan Ria memandang heran. Wajah Faizi kali ini lebih ceria dari yang tadi. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh, tapi aku tidak bisa memastikannya.

“Hai, kebetulan kalian masih di sini. Teman gue mau kenalan dengan kalian.” Katanya langsung. Mendengarnya aku jadi kesulitan menelan siomay yang masih ada di mulutku. Belum lagi si Ria yang justru dengan senangnya menerima tawaran itu. Ugh Ria kamu ini.

Dan akhirnya di sinilah kami berempat. Duduk di bangku taman dengan sebuah meja yang menyekat di antara kami. Kalau bisa digambarkan aku malu sekali untuk bertemu langsung dengan laki-laki yang kukagumi selama ini untuk pertama kalinya. Aku harus apa? Berbicara biasa pun kurasa tak sanggup.

Obrolan biasa, yang mendominasi percakapan hanya Faizi dan Ria. Mereka memang teman akrab dan aku? Ah, kenapa aku jadi merasa tak pantas ada di sini. Essa terlihat juga bisa mengusai keadaan meski belum sepenuhnya mengenal Ria. Mungkin karena Ria yang mudah akrab dengan orang lain dan pertanyaan pancingan Ria ke Essa membuat mereka bisa mengobrol layaknya teman. Aku pasti bakalan diam saja kalau bukan karena Ria yang meminta pendapatku atau Faizi yang tiba-tiba bertanya tentangku, sedangkan Essa tak sekalipun mengatakan apa-apa denganku. Kecewa? Tidak juga, aku sadar denganku yang tidak banyak bicara ini. Setidaknya dari ini aku mendapat banyak informasi tentangnya dan inspirasi novelku.

“Eh Zha, lu lagi nulis novelkan? Emang cerita tentang apa yang lu buat?” Tanya Faizi, sukses membuatku terkejut.

“Itu cerita tentang…” belum selesai aku meneruskan ucapanku, Ria sudah lebih dulu melanjutkannya.

“Cerita romance gitu. Inspirasinya dari orang yang sering ke taman ini.” Dan dengan seenaknya saja dia bicara.

“Eh.” Aku menaikkan alisku mendengar jawaban Ria.

“Bener nih, Zha? Wah sama dong dengan Essa, dia itu suka buat sketsa dan inspirasinya juga dari seseorang yang ia lihat dari taman ini.”

“Eh?”

“Eh.”

Suara dari mulutku dan Essa keluar berbarengan. Kami saling menatap sebentar sebelum melihat ke arah dua orang sekawan yang tersenyum penuh arti. Aku tidak mengerti dengan maknanya, tapi aku sadar ada sesuatu yang aneh di sini. Di antara mereka.

***

“Eh Zha, lu lagi nulis novelkan? Emang cerita tentang apa yang lu buat?” Tanya Faizi pada sepupu temannya yang bernama Tyzha beberapa saat setelah kami mengobrol.

“Itu cerita tentang…”

“Cerita romance gitu. Inspirasinya dari orang yang sering ke taman ini.” Lanjut Ria memotong jawaban sepupunya.

“Eh” Tyzha melirik Ria tajam, seolah tak rela akan jawaban sok tau sepupunya itu. Sedikit banyak aku juga kaget dengan jawaban Ria yang entah kenapa membuatku tersenyum tanpa alasan.

“Bener nih, Zha?” Tanya Faizi memastikan. Namun belum dijawab dia lalu melanjutkan “Wah sama dong kayak Essa, dia suka buat sketsa dan inspirasinya juga dari seseorang yang ia lihat dari taman ini.”

“Eh?”

“Eh.” Pernyataan Faizi membuatku kaget setengah mati.

Tanpa sadar aku menatap Tyzha yang berada tepat di depanku, merasa sedikit malu dan tiba-tiba rasa gugup menggelayuti seluruh tubuhku. Aku menoleh ke arah Faizi, meliriknya tajam, penuh tanda protes, namun yang dilirik justru  malah tersenyum penuh arti.

Sahabatku yang satu itu memang sering sekali menyebalkan dan membuatku kesal, seperti saat itu yang tiba-tiba dia berbicara tentangku seenaknya. Tapi, jauh lebih dari itu, dia benar-benar sahabat yang pengertian dan bisa di andalkan. Karna mungkin tanpa celotehannya dulu, mungkin tidak akan pernah ada hari ini, hari paling istimewa dalam hidupku.

Takdir itu tak bisa ditebak. Skenario-Nya berjalan dari sisi yang kadang tak bisa di sangka. Hari ini, hari paling istimewa bagiku, juga bagi Tyzha. Ya, hari ini adalah hari pernikahan kami berdua.

Masih lekat dalam ingatan, momen dimana kami bertemu dan bertatap muka untuk pertama kalinya, dimana sebelumnya hanya bisa memandang dari jarak yang cukup jauh, momen dimana kami berkenalan dan saling berbincang pertama kali, dan momen dimana Faizi dan Ria seenaknya bicara rahasia dari kami masing-masing. Momen itu menjadi awal dari semuanya, menjadi awal kisah kami sesungguhnya di dunia nyata, bukan hanya kisah yang tertuai dalam novel yang Tyzha buat atau sketsa-sketsa yang tergambar oleh tanganku…

Sebuah buku sketsa aku persembahkan pada Tyzha dan Tyzha juga memberikanku sebuah novel karyanya yang sudah diterbitkan. Kami tersenyum memandang pemberian masing-masing. Faizi yang berada di sampingku dan Ria yang berada di samping Tyzha langsung berseru, “ciiieeeeeeee…….” dan kami tertawa bersama….

Roida~Yuli
Tantangan Duet OWOP
091015

Elegi #1

image

Kau dimana?
Saat aku menunggu sendiri dalam sepi
Di bukit terjal tempat kenangan
Ditemani pohon beringin yang terdiam beku
Karna sepoi pun enggan singgah menghampiri
Malam makin pekat menghitam
Rembulan pun tinggal sabitnya
Malu-malu dibalik awan ufuk timur
Kau masih tak jua datang seperti janjimu dulu
Hingga aku lelah menunggu
Menunggu dalam keterdiaman

Seonggok kembang api di depanku masih aku diamkan
Entahlah apa ia bisa dinyalakan atau tidak
Malam yang makin dingin sepertinya akan membuatnya tak mau terbakar api
Tak seperti harapku yang kini telah hangus terbakar api keputusasaan

Hari telah berganti
Dan kembang api itu masih teronggok tak tersulut
Selangkah demi selangkah aku meninggalkannya
Dalam sepi, dalam kesendirian
Seperti hatiku yang sepi dan sendiri
Tak semeriah dulu, kala kembang api itu menghias langit malam

Selamat tinggal…

_birucakrawala #NarasiOWOP 😁

Senja Bersamamu

Aku merindukan damai di ujung cakrawala itu…
Bersamamu, aku merindukannya..

Tiga tahun sudah berlalu sejak kamu berpamitan di sore itu, di atas perahu motor bapakku. Hari itu adalah hari terakhir kita bersama mengarungi indahnya lautan yang luas. Kita berdua menikmati cakrawala yang perlahan berubah jadi kuning kemerahan, lalu semburat ungu yang menandakan malam telah datang. Bapak mengajak kita pulang segera karna malam sudah datang, tapi kamu bersikeras menunggu hingga rembulan menampakkan sinarnya. Katamu hari ini adalah hari terakhir kebersamaanmu dengan kami, maka kau ingin menghabiskannya bersama menikmati lautan. Bapakku tak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa menuruti keinginanmu itu, begitu juga aku yang dengan senang hati menemanimu.

Hari dan bulan berganti, namun tak sekalipun aku melihatmu lagi. Apalagi sekedar melihatmu di sini, di pantai tempat kita bermain bersama dulu, mendengar kabarmu saja tidak pernah. Kamu benar-benar menghilang sejak hari itu. Beberapa kali aku melihat ayah dan ibumu, tapi aku tak pernah sekalipun melihatmu. Aku tak terlalu berani menemui dan menanyakan tentang dirimu pada mereka, karna bapak selalu saja melarangku menemui mereka. Seperti yang kau tau, aku tak pernah tak mematuhi perintah bapak, meskipun aku tak tau alasannya, bahkan sampai saat ini.

Dimana kau berada saat ini? Sungguh aku merindukanmu, merindukan saat-saat kebersamaan kita dulu, bermain bersama di sepanjang pantai dan menikmati tenggelamnya mentari di balik senja keunguan di tepi pantai. Kebersamaan kita kala mengarungi lautan yang membias warna senja di perahu bapak kala ia sedang tak sibuk dengan pekerjaannya.
Aku merindukanmu…

***

Tahun demi tahun berganti… Dulu aku tak tau apa-apa dan terlalu polos. Terlalu takut untuk bertanya, bertanya tentangmu. Dan kepolosanku, ketakberanianku menghasilkan ketidaktahuanku. Kamu tetap saja menghilang dari sekelilingku. Hingga di tahun kelima perpisahan kita.

Apa kabarmu? Semoga kau baik-baik saja di sana, di tempat kau berada kini. Semoga kau bahagia, karena aku disini juga bahagia. Tapi, kebahagiaan ini terasa kurang lengkap tanpamu. Senja keunguan ini terasa berbeda tanpamu, meskipun ada di dia di sisiku. Dia yang senyumnya selalu menenangkan, tapi tak semenenangkan saat aku bersamamu menikmati senja di batas cakrawala itu…

***

Aku disini, di depanmu. Entah kamu tau atau tidak. Aku hanya yakin kamu melihatku dari tempatmu tersenyum kini.
Air mata ini mengalir begitu saja, perasaan menyesal menggelayuti, meskipun aku tak tau apa yang aku sesali.

Meskipun kini kita tak lagi bisa bersama seperti dulu saat kita menikmati senja bersama, aku berharap kau bahagia disana. Aku bersamamu, selalu, meskipun itu hanya seberkas nama putri kecilku. Iya, namamu untuk putri kecilku, agar aku selalu merasa kau ada bersamaku.

Senja ini indah, walau tak ku nikmati di tepi pantai layaknya kita dulu. Senja ini tetap indah selama kau bersamaku, di dalam hatiku…

27.04.2015
#malamnarasiOWOP
_birucakrawala

Sekilas sore #1

“Dian, adikmu dimana?”

“Tadi dia pamit mau main bola di lapangan kompleks, Bun” jawab Dian tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar komputer.

Aku hanya menggeleng melihat kelakuan anak pertamaku itu. Sabtu sore adalah waktunya diperbolehkan menggunakan internet di rumah, jadi dia menggunakannya dengan maksimal. Maklumlah, di luar waktu yang telah di jadwalkan oleh ayahnya, dia tidak boleh menggunakan komputer kecuali untuk keperluan sekolah.

Aku meninggalkan Dian yang masih fokus dengan komputernya menuju halaman rumah. Hari sudah beranjak gelap, namun anak keduaku, Dimas, belum juga pulang. Aku duduk di beranda rumah sambil sesekali melihat ke jalan depan rumah, menunggu kepulangan Dimas. Sebenarnya aku tak perlu terlalu khawatir karna Dimas tidak akan berani pergi ke tempat lain kecuali dia sudah ijin. Tapi namanya juga seorang ibu, tetap saja khawatir pada anaknya.

Bukan tanpa alasan aku khawatir pada anak keduaku itu. Tidak seperti kakaknya yang selalu sehat saat masih di kandungan, justru sebaliknya. Saat mengandung Dimas, kandunganku sangat lemah, bahkan sempat pendarahan beberapa kali dan dirawat di rumah sakit. Namun, aku bersyukur, dengan perjuangan antara hidup dan mati, Dimas hadir ke dunia ini. Kondisinya saat itu memang tak sesehat bayi pada umumnya, tapi mendengar tangis dan merasakan gerakannya yang lemah sudah membuatku menangis bahagia. Saat itu aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan merawat Dimas dengan sebaik mungkin agar kondisinya bisa sehat selayaknya anak pada umumnya.

“Bunda..” Aku tergagap mendengar panggilan Dimas.

“Bunda melamun ya?” Tanya Dimas dengan wajah yang menggoda “Gak baik loh Bun ngelamun sore-sore gini, hehe”

Aku tersenyum mendengar godaan Dimas padaku, “Enggak kok sayang, Bunda tadi teringat kamu saat masih kecil dulu”

“Ooh.. Aku mandi dulu ya Bun, udah hampir magrib nih, ntar dimarahin sama ayah kalo belum siap-siap ke masjid” Dimas berlari-lari kecil memasuki rumah sambil mendekap bola sepak di dada dengan tangannya.

Perjuangan itu tidak sia-sia, Dimas kini sudah beranjak besar. Tubuhnya memang tak sebesar teman-temannya, tapi dia juga memiliki kelebihannya sendiri. Stamina yang bagus, begitu kata guru olahraganya, dan otak yang cerdas dengan peringkat satunya yang bertahan hingga saat ini.

Aku berdiri, menyusul Dimas masuk ke rumah, rumah yang semoga selalu menjadi surga bagi anak-anakku..

*perjalanan malam Bandung-Bogor, 200415 21.27 wib*
#MalamNarasiOWOP
_birucakrawala

Wajah itu…

Wajah itu. Wajah yang tak bisa ku jelaskan. Kosong. Tanpa ekspresi. Hampa. Datar tak berwarna…

Setiap pagi aku melihatnya, duduk termenung sendiri di bangku pojok stasiun. Sepi dalam keramaian, menunggu datangnya kereta yang akan membawanya ke tempat tujuan. Langkahku maju mundur tak menentu. Beberapa kali aku mencoba untuk menghampiri, tapi ketika aku telah duduk di bangku sebelahnya, mulutku seolah terbungkam, membisu karna kebisuannya.

Kembali pagi ini aku melihatnya. Wajah yang sama, tanpa ekspresi, hambar, datar. Entah kenapa, rasa penasaranku kini sudah memuncak. Tak ada alasan pasti, aku hanya ingin tau kemana dia pergi…

Kereta mulai melambat, kulihat dia merapat ke arah pintu. Aku pun merapat ke pintu kereta yg lainnya. Dia turun dari kereta dan aku mengikutinya. Stasiun sangat sepi, namun ada sesuatu yang aneh. Tak ada orang yang turun dari kereta kecuali aku dan dia, dan aku juga tak melihat orang lain selain dia.

Aku buang jauh jauh perasaan aneh yang melanda dan terus mengikutinya dari belakang. Cukup lama ia berjalan, jalanan yang amat sangat sepi. Dimana ini? Entahlah, aku tak tau. Aku tak pernah melewati jalanan ini sebelumnya. Ia terus berjalan, melewati rimbunan pohon yang lebat di kiri kanan.

Aku menghentikan langkahku. Wajah itu kini ada dihadapanku. Menatapku tanpa makna. Aku memejamkan mata, berusaha menghilangkan kekagetan yang melanda. Sedetik kemudian aku kembali membuka mata, bersiap melihat wajah itu lagi. Namun wajah itu menghilang, digantikan sebuah pohon besar yang tak memiliki daun. Aku memandang ke sekeliling, tak kudapati dia, bahkan pohon-pohon rimbun di kiri-kananku sudah tak ada lagi, hanya seonggok pohon di depanku. Aku berjalan mendekat.

Semakin mendekat, aku melihat seolah pohon itu bergerak menjauh dariku. Aku mempercepat langkahku, bahkan berlari mengejarnya, namun pohon itu terus menjauh. Aku terus berlari dan berlari seperti orang gila mengejar pohon itu. Pohon itu berhenti bergerak, aku melihat sebuah jurang besar memisahkanku dengan pohon itu, namun lariku semakin cepat. Aku bahkan tak tau bagaimana menghentikan langkah kakiku. Aku memejamkan mata, pasrah jika harus jatuh ke dalam jurang.

Melayang. Aku merasakan tubuhku melayang. Lalu sedetik kemudian aku merasa tubuhku kembali berpijak. Takut-takut aku kembali membuka mataku. Aku melihat wajah itu lagi, pada cermin yang berada tepat di depan wajahku. Tanpa ekspresi, hampa, kosong, datar tak berwarna, tanpa makna. Wajah itu ternyata,,, itu wajahku..

#malamnarasiOWOP
#random
_birucakrawala

*Secangkir Coklat Bunda*

Hujan kembali mengguyur kota ini. Entah ini malam keberapa Ayah terduduk sendiri di beranda rumah, bertemankan dingin yang menggelayut dan bunyi rintik hujan yang riuh jatuh di atap dan tanah-tanah di halaman yang mulai melembut, tak segersang seperti minggu lalu. Secangkir coklat panas juga menjadi teman Ayah yang tenggelam dalam lamunan-lamunannya yang berujung dan tak berarah. Namun, secangkir coklat itu hanya dipandang Ayah dalam diam, tak sedikitpun menyentuh, apalagi menikmati kehangatan dan kenikmatan rasanya. Ia hanya diam dan terus memandangi secangkir kopi hangat itu dengan tatapan kosong. Tatapan penuh kerinduan.

***

“Rindu, cinta itu seperti coklat. Kita akan merasakan sensasi manis dan pahit sekaligus saat memakannya.” Aku menatap Bunda bingung, namun yang di tatap terus fokus pada kesibukannya di depan kompor, “Begitupun cinta. Ketika cinta hadir dalam kehidupan kita, maka bukan saja manis yang akan kau rasakan tetapi juga pahit.” Aku hanya diam tak menanggapi.

“Cinta itu tak cuma manis dan juga tak selalu pahit. Bukan cinta namanya jika kita hanya merasakan salah satu dari kedua jenis rasa itu. Karena manis dan pahit dan manis dalam cinta saling melengkapi. Kedua rasa itu diciptakan agar cinta itu tercipta” Bunda melanjutkan penjelasannya. Tadi aku bercerita kepada Bunda dan bertanya-tanya tentang apa sebenarnya cinta itu menurut pandangan Bunda-ku yang paling bijaksana itu. Teman-temanku di sekolah selalu mendengungkan kata-kata cinta yang tak kumengerti. Sedikit kolot memang atau mungkin lebih tepatnya kuper. Yah apapunlah. Hanya saja cinta yang mereka dengung-dengungkan itu berbeda dengan makna cinta yang aku tangkap selama ini.

Kesibukan Bunda selesai, lantas menoleh ke arahku sambil memegang secangkir coklat hangat. Coklat hangat kesukaan Ayah. “Tapi kamu jangan khawatir, seperti juga coklat yang terasa nikmat, begitu juga cinta, pahit dan manisnya akan terasa nikmat.” Bunda mengakhiri penjelasannya tentang cinta, lantas beranjak menjauh, meninggalkanku yang masih diam dalam kebingungan. Penjelasan itu belum terjelaskan sepenuhnya. Aku melihat Bunda menghampiri ayah yang sedang membaca buku di beranda rumah, memberikan secangkir coklat hangat yang baru saja beliau buat. Pemandangan rutin setiap malamnya. Aku tersenyum, mungkin itulah salah satu dari manisnya cinta yang Bunda maksud.

***

Penjelasan cinta dari Bunda masih menggantung di otakku, belum terjelaskan secara utuh. Namun aku tau, penjelasan itu takkan pernah utuh. Aku menangis tergugu. Menatap Ayah yang juga menangis dalam keterdiamannya. Menatap kosong secangkir coklat panas di hadapannya. Ah, mungkin juga coklatnya sudah dingin, sedingin angin yang menelusup pori-pori kulit.

Bunda, apakah ini salah satu pahitnya cinta?

Heningnya malam, 10032015 23.59 WIB
-ya-

* DALAM DIAM *

Malam semakin larut dan udara semakin terasa dingin namun mataku semakin tak bisa dipejamkan. Lewat sudah tengah malam, bahkan subuh hanya tinggal hitungan menit saja, tapi rasa lelah yang menggelayuti tubuh tak sedikitpun membuatku terlelap. Aku bangkit dari tempat tidur untuk kesekian kalinya. Aku sudah putus asa untuk berusaha terlelap tidur, nampaknya aku takkan bisa tidur malam ini. Maka kuputuskan untuk tilawah sambil menunggu subuh tiba. Dan berharap rasa kantuk tak menyerang di hari esok.

.::.

“Lea, kamu kok lemes banget, kenapa?” Aku menoleh mengalihkan perhatian dari buku yang aku baca pada seseorang yang memanggil namaku. “Kamu kenapa?” tanyanya sekali lagi. Novi, temanku yang entah kapan datangnya tiba-tiba sudah duduk disampingku. Aku tersenyum.

“Gak papa kok Nov, biasa semalam insomniaku kambuh jadi belum bisa tidur dari kemarin.”

“Ooh, jangan kebiasaan gak tidur lah, gak baik bagi kesehatanmu. Kasihan tubuhmu, dia juga punya hak untuk diistirahatkan” ia Novi menasehatiku. Maklum Novi tipe orang yang sangat menjaga kesehatan dan pola hidup sehat. Tidak jarang aku di omeli hanya karena jarang olahraga, makan yang tidak teratur atau karena seperti saat ini, jam tidur yang berantakan. “Kamu sendirian disini? Kak Ahmad belum datang?” Sembari kembali fokus pada bacaanku, aku menggeleng pelan dan bergumam, “mungkin urusannya belum selesai”.

Aku Azalea, teman-teman dikampus memanggilku Lea. Agak aneh memang, tapi itu nama pemberian orang tuaku. Mereka bilang itu nama bunga yang langka dan berharap aku menjadi seseorang yang berbeda dari orang-orang kebanyakan. Meskipun agak aneh, aku suka nama pemberian orang tuaku. Aku suka nama Azalea…

“Lea, kamu gak mesen makan? Aku laper neh. Kak Ahmad gak dateng dateng dari tadi. Aku mesen duluan ya?” Aku menggangguk tanpa menjawab. Novi beranjak dari kursinya menuju ke salah satu kios makanan yang ada di kantin kampus.

“Hei, serius amat bacanya?” Suara Kak Ahmad membuyarkan konsentrasiku membaca. Ah, suara ini yang membuatku semalam terpekur tak bisa memejamkan mata. Kak Ahmad tersenyum melihat wajahku yang kaget karna sapaannya yang tiba-tiba. “Maaf” Katanya sambil mengambil kursi dan duduk menghadapku di seberang meja.

“Baru dateng Kak?” Tanyaku basa-basi, sembari menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang tanpa bisa dicegah. Aku menghela napas atas pertanyaaan konyol yang baru aku ucapkan. Dia mengangguk sambil mengubek-ubek tasnya mencari sesuatu.

“Eh, Kak Ahmad udah dateng” Seru Novi sambil kembali duduk disampingku dengan membawa nampan makanan pesanannya. Lagi-lagi Kak Ahmad tersenyum menanggapi seruan Novi. Senyuman yang akhir-akhir ini juga sangat menggangguku. Entah kenapa.

Siang itu aku, Novi dan Kak Ahmad mengagendakan rapat tidak formal untuk membahas persiapan agenda baksos yang akan dilaksanakan beberapa hari kedepan. Seharusnya rapat tersebut dihadiri oleh lima orang, tapi dua orang yang lain, Mbak Ana dan Fahmi sedang berhalangan hadir karna masih ada urusan yang tak bisa ditinggalkan. Dan siang itu berjalan terasa begitu lambat. Mungkin karena kondisiku yang sedang kacau. Antara otak dan hatiku bertolak belakang membuat konsentrasiku hilang dan tidak bisa fokus selama rapat.

.::.

“Lea, kamu tuh kenapa sih hari ini? Kok kayaknya gak fokus banget” Keluh Novi yang sedari tadi aneh melihat tingkahku yang tidak seperti biasanya. Kami sekarang berada di kamar kos Novi, malam ini aku berniat menginap ditempatnya. Siapa tahu aku bisa memejamkan mata dan tertidur lelap tidak seperti malam sebelumnya. Aku menghela nafas sejenak.

“Gak papa kok, Nov. Kayaknya ini efek karena aku kecapekan makanya rada-rada gak fokus terhadap hal apapun. Tapi tenang aja, aku gak papa kok. Insya Allah, setelah istirahat dan tidur yang cukup aku bakal normal lagi besok.”

“Bener ya!” Novi sangsi dengan jawabanku. “Kamu harus istirahat dan tidur yang cukup. Aku gak mau kamu nanti sakit atau gak fokus lagi kayak hari ini. Apalagi agenda baksos kita tinggal beberapa hari lagi” Aku hanya bisa tersenyum mendengar ocehan Novi yang mengkahwatirkanku.

Novi adalah sahabat yang baik. Aku lupa dimana pertama kali mengenalnya, tau-tau aku sudah dekat dengannya, apalagi saat kami mendapat amanah di organisasi yang sama dua tahun lalu. Dan sekarang, di akhir masa kuliahku ini aku diminta untuk mengurus sebuah kegiatan bakti sosial, lagi-lagi mengurusnya bersama Novi dan beberapa teman yang lainnya termasuk Kak Ahmad. Novi orang yang periang, sedikit cerewet, sangat perhatian dan paling peka di antara teman-temanku yang lain. Aku suka punya teman seperti dia. Oh iya, satu lagi tentang Novi yang membuat aku merasa nyaman berteman dengannya. Dia adalah pendengar yang baik. Jarang sekali menemukan teman yang mau mendengar seperti dia. Hanya mendengar tanpa harus sok untuk menasehati. Meskipun kalo sudah berurusan dengan kesehatan dia akan ngomel panjang lebar dengan nasehat-nasehatnya, tapi dia akan diam ketika aku memintanya untuk cukup mendengarkan saja. Dia tahu waktu-waktu yang tepat untuk berkomentar dan memberikan nasehat.

Lain lagi dengan Kak Ahmad, seorang yang misterius bagiku. Aku mengenalnya hampir tiga tahun lalu saat secara kebetulan (tapi tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini) aku menjadi anggota humas untuk suatu acara besar di kampus dan Kak Ahmad adalah salah satu tanggungjawabku untuk menghubunginya dan memberikan informasi padanya yang saat itu ia menjadi ketua senat di salah satu fakultas kampus ini. Pertama kali mengenalnya sebagai orang yang agak nyentrik dan jutek. Wajahnya yang terlalu serius dan terlihat jarang senyum. Dan sikap cueknya yang menurutku kadang cukup keterlaluan. Satu kata yang bisa aku simpulkan saat itu. Dingin.

Itu saat aku baru kenal namun tak benar-benar mengenalnya. Saat aku mengenalnya dengan lebih baik, dia cukup jauh berbeda dari yang aku bayangkan. Orangnya baik dan ternyata enak di ajak ngobrol, bahkan juga seringkali ngelawak membuat orang-orang disekitarnya tertawa. Meskipun sikapnya nyentrik dan kadang menyebalkan pada saat saat tertentu, Kak Ahmad adalah orang yang patut untuk dikagumi. Kenapa? Pertama dia memiliki pengetahuan yang luas, makanya dia enak di ajak berbincang apapun, dengan siapapun dan dimanapun, pasti nyambung obrolannya. Kedua dia jago nulis. Beberapa artikel tentang budaya, agama, dan politik khususnya yang ia tulis sempat terpampang di media lokal. Bahkan menulis fiksi pun dia bisa. Fiksi yang dia tulis kebanyakan cerita pendek yang menyinggung tentang kondisi masyarakat atau bahkan kondisi kampus yang ada disekitarnya..

Aku meletakkan buku yang tadi aku baca dan merebahkan tubuh di samping Novi yang sudah terlelap lebih dulu. Aku pejamkan mata berusaha untuk tidur dan melelapkan diri. Namun, bayangan senyuman Kak Ahmad lagi-lagi menggangguku, seperti semalam. Aku tak mengerti. Aku lelah dengan perasaan yang terganggu seperti ini. Aku juga lelah menyimpannya sendiri. Tapi entah kenapa, rasanya sangat susah untuk menceritakannya pada Novi. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, apapun yang aku rasakan, yang aku pikirkan, selalu aku ceritakan pada Novi, tapi tidak untuk kali ini. Setiap kali aku ingin bicara tentang perasaan yang mengganggu ini, seolah mulutku terkunci dan aku tidak bisa berkata-kata. Pada akhirnya perasaan ini aku simpan sendiri tanpa ada yang tahu termasuk Novi. Dan aku cukup tersiksa karnanya.

.::.

Pagi ini terasa begitu segar. Aroma tanah bekas hujan subuh tadi masih tercium membuat pagi ini terasa lebih indah dari hari-hari kemarin. Meskipun semalam dan beberapa malam sebelumnya aku hanya bisa tidur selama kurang lebih dua sampai tiga jam, setidaknya ada waktu untuk tubuku bisa beristirahat dari segala penat. Namun yang paling penting adalah perasaanku. Beberapa malam yang lalu aku memutuskan untuk berdamai dengan hatiku, bersepakat dengan hati untuk menatanya menjadi lebih baik sehingga aku tak lagi merasa terganggu dan tersiksa.

Aku memberanikan diri untuk bercerita tentang perasaan itu, berani mengakui perasaan itu, bukan pada Novi, atau teman-temanku yang lain. Aku bercerita pada sang Pemilik Hati. Aku bercerita sepuas-puasnya, hingga perasaanku lega, hingga batinku terasa plong, bahkan hingga aku terlelap tak sengaja karena terlalu lelah bercerita.

Paginya aku berangkat ke kampus dengan mata yang bengkak, membuat Novi menjadi sangat khawatir dan memintaku untuk bercerita padanya. Bahkan tak henti-hentinya meminta aku bercerita hingga keesokan harinya. Aku heran, tidak biasanya dia agak memaksa seperti itu. Tapi aku maklum, mungkin itu karena dia terlalu khawatir padaku. Namun, bosan dengan tanggapanku yang tersenyum dan lagi-lagi mengalihkan pembicaraan membuat Novi akhirnya berhenti memintaku bercerita.

Aku berjalan dengan senyuman yang terukir di wajah, sambil menyapa warga sekitar yang beraktivitas di luar rumah. Ada yang sedang menyapu halaman, ada yang menjemur baju di depan rumah, ada yang sedang bersiap berangkat (entah kemana di hari libur ini, mungkin mau liburan), ada juga kumpulan ibu-ibu yang sedang berkerumun di warung tukang sayur deket kosan.

Hari ini adalah hari yang sudah ditunggu-tunggu olehku dan Novi. Hari dimana acara bakti sosial yang sudah kami dan teman-teman panitia lain persiapkan beberapa minggu terakhir ini dilaksanakan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kampus meskipun butuh dua kali naik angkot. Maklumlah rute angkot di kota ini pendek jadi kadang meskipun jaraknya tidak benar – benar jauh, tetap harus gonta-ganti angkot. Tapi kali ini kami tidak perlu ganti angkot karena panitia sudah menyewa angkot untuk menuju lokasi, melihat barang yang harus kami bawa sangat banyak, bahkan membutuhkan satu angkot tersendiri.

Saat tiba di tempat kumpul panitia, aku melihat Novi sedang serius berbicara dengan Kak Ahmad. Tadinya aku berniat untuk menghampirinya, namun urung aku lakukan. Entah apa yang mereka bicarakan. Tak tau kenapa tiba-tiba hatiku merasa terusik melihat mereka berdua yang terlihat sangat akrab. Aku beristigfar dalam hati sambil memejamkan mata. Berusaha fokus dan kembali mengingat saat saat aku berdamai dengan hatiku. Aku mengalihkan perhatianku pada panitia yang lain yang sedang sibuk mengangkut dan memasukkan barang-barang ke dalam angkot. Akhirnya aku memilih untuk menghampiri dan membantu mereka. Semua barang telah selesai dimasukkan ke dalam angkot, saatnya berangkat.

.::.

Novi menghampiriku dan menarikku untuk masuk ke dalam angkot yang sama dengannya. Hari ini ia terlihat begitu cerah dan bersemangat. Bahkan saat kegiatan tadi dia yang paling bersemangat, melakukan sosialisasi pada masyarakat, bermain dengan anak-anak, dan membantu panitia yang lain dalam melaksanakan tugas. Tidak terlihat lelah yang terlalu walaupun seharian kami pontang-panting melaksanakan kegiatan baksos ini. Aku sendiri cukup senang dan antusias dengan kegiatan hari ini yang ternyata minat masyarakat lebih dari perkiraan. Tapi tetap saja terasa berbeda dengan Novi yang aura bahagianya begitu terlihat.

Begitu juga Kak Ahmad yang ada dalam angkot yang sama dengan kami saat perjalanan pulang. Sedari tadi aku melihatnya selalu melemparkan senyum kepada setiap orang, tidak seperti dia biasanya yang jarang mengukir senyum di wajahnya. Terutama saat ia mengobrol dengan Novi. Aku melihat Kak Ahmad lebih lepas berekspresi dari biasanya. Entahlah, mungkin aku saja yang terlalu berlebihan hari ini. Atau mungkin ada alasan-alasan lain yang aku sendiri tidak tau dan tak mau mengerti.

“Lea kenapa? Tumben sepanjang hari ini jadi pendiem? Ada masalah?” Tanya Novi saat perjalanan pulang.

“Iya Lea, dari tadi saya lihat kamu gak banyak bicara. Padahal kan biasanya kamu yang paling banyak bicara, apalagi kalo urusannya sama masyarkat.” Kak Ahmad ikut menimpali.

Aku menggeleng lemah dan tersenyum, “Aku baik-baik aja kok, kalian gak usah khawatir. Sedang tidak ingin banyak bicara aja dan sedang ingin belajar mendengar dan membaca kondisi sekitar.” Jawabku. Aku memang sedang tak ingin banyak bicara, semangatku tiba-tiba menurun semenjak tadi pagi dan aku belum bisa meningkatkannya lagi, bahkan hingga kegiatan berjalan, semangatku malah tambah kering.

“Bisa aja kamu Lea. Aku kangen liat kamu bicara depan masyarakat lagi tau. Empat bulan gak di senat, kamu malah makin jadi pendiem gini.” Aku hanya tersenyum mendengar celetukan Novi. Kak Ahmad juga tersenyum dan membuatku refleks menoleh ke arah lain.

“Iya, aku juga ngerasain ada hal yang tiba-tiba menghilang dalam diri aku akhir-akhir ini, yah terhitung semenjak gak di senat lagi. Tapi kan manusia berubah itu biasa Nov, yang penting perubahannya ke arah yang lebih baik. Ya kan?” Ujarku menanggapi ucapan Novi tadi. “Eh aku mau tidur dulu ya, semalem cuma tidur dua jam. Lumayanlah 15-20 menit buat tidur, apalagi ditambah macet. Ntar bangunin kalo udah nyampe kampus.”Selaku sebelum Novi menimpali kata-kataku sebelumnya. Aku langsung memejamkan mata dan berpura-pura tidur. Beruntungnya aku duduk di pojok jadi bisa bersandar dengan lebih leluasa.

“Udah Nov, biarin aja Lea istirahat. Mungkin dia kecapekan.” Kak Ahmad mencegah Novi yang sudah bersiap membangunkan aku. Novi menghela napas. Dan kembali terdengar obrolan antara Kak Ahmad dengan Novi. Bagi telingaku yang mendengarnya, percakapan itu terdengar sangat akrab, bahkan terlalu akrab. Lalu tiba-tiba aku merasa sakit dan takut karenanya.

.::.

Dua bulan berlalu semenjak kegiatan baksos itu. Intensitas pertemuanku dengan Novi berkurang dan terus berkurang, bahkan dalam sebulan terakhir aku tidak bertemu dengannya. Meskipun dalam beberapa waktu, sejujurnya aku sengaja untuk tidak bertemu dengan Novi. Tapi dengan alasan dia sibuk menyelesaikan penelitiannya dan aku-pun tenggelam bersama tugas akhir yang menyita banyak waktu dan perhatian, menjadi alasan yang sangat pas bagiku. Dan akhirnya terbayar sudah kesibukanku dua bulan terakhir dengan hasil yang cukup memuaskan. Aku lulus dengan nilai yang setidaknya bisa aku banggakan pada diriku sendiri dan mungkin anak-anakku kelak.

Suatu sore tiba-tiba aku teringat pada Novi dan kembali berpikir, apa benar aku jarang menemui Novi karena sibuk dengan tugas akhir alih-alih karna kejadian baksos dulu. Lagi-lagi otak dan hatiku tak sejalan, memberikan jawaban yang berbeda. Lalu tiba-tiba aku merasa bersalah. Bersalah karena menghindar dari Novi. Bersalah karena sikapku yang terlalu kekanak-kanakan dan mungkin juga bisa dibilang egois. Aku ingat dulu Novi pernah sekali memintaku menginap dikosannya karena ada hal yang ingin dia bicarakan padaku, tapi justru aku menolaknya hanya karena alasan tugas akhir yang masih bisa aku kerjakan keesokan harinya. Padahal saat aku butuh Novi, dia selalu ada untukku. Aku mendesah perlahan, lagi-lagi merasa bersalah.

“Lea, udah tau kabar belum?” Tari teman sekosanku tadi pagi tiba-tiba menghampiriku di kamar sambil tersenyum sumringah. Aku menggeleng pelan. “Kak Ahmad mau nikah loh” selorohnya. Dan tiba-tiba badanku terasa lemas.

“Sama siapa?” tanyaku memberanikan diri

“Aku belum tau sih akhwatnya siapa, soalnya emang undangannya belum disebar, tapi katanya anak angkatan kita. Aku juga tau dari kakak kelas yang pernah satu amanah dengan Kak Ahmad.” Jelas Tari

Aku menunduk, menyembunyikan air mata yang entah kapan mulai menggenang di pelupuk mata. “Alhamdulillah kalo gitu, semoga Allah melancarkan niatan baik mereka”.

“Amin” sahut Tari meng-amin-i. “eh aku berangkat dulu ya, udah ditungguin dosen neh, ntar kena semprot lagi aku, hehe” Tari berlalu sambil mengucapkan salam. Dan aku sendiri semakin dalam tertunduk sambil mengusap air mata yang mulai menetes.

Sore harinya aku berkunjung kekosan Novi. Aku ingin minta maaf dan menceritakan segala hal yang selama tiga bulan terakhir aku sembunyikan darinya. Aku mengetuk pintu rumah Novi, kebetulan HP Novi sedang tidak bisa dihubungi, jadilah aku minta tolong teman sekosannya untuk membukakan pintu dan memanggilkan dia.

Begitu melihatku, Novi tersenyum dan langsung memelukku sangat erat. Aku kaget dengan pelukan tiba-tiba itu, tapi karena aku sendiri memang sudah kangen sama padanya, jadi akupun membalas erat pelukannya. Yang membuatku bingung adalah Novi menangis dalam pelukanku, dan aku hanya bisa diam tak berkutik. Cukup lama Novi memeluk dan menangis dalam pelukanku, akhirnya dia melepaskanku. Mengusap air matanya yang mengalir di pipinya. Aku melihat tangisan itu tangisan bahagia, membuat rasa khawatirku menghilang dengan sendirinya.

“Kamu menangis kenapa Nov? Kok ya lama gak ketemu aku, begitu ketemu langsung nangis..” tanyaku sambil memandangi wajah Novi yang masih sesenggukan. Dia menggeleng pelan.

“Aku menangis bahagia Lea, udah lama banget aku gak liat kamu” ujarnya. Aku ketawa.

“Ya ampun, baru juga gak ketemu sebulan.”

“Iya, memang Cuma sebulan kita gak ketemu. Tapi dalam sebulan itu banyak yang terjadi dalam hidupku. Dan aku ngerasa kehilangan kamu sebulan ini.” Novi masih sesenggukan dan lagi-lagi aku merasa bersalah karena menghindarinya dua bulan terakhir,

“Ya sudah, kamu cerita aja sekarang sama aku, apa aja yang udah terjadi dalam dua bulan terakhir saat kita jarang ketemu, gimana?” Novi tersenyum dan memelukku sekali lagi.

Dia membawaku menuju kamarnya di lantai dua. Sebelum masuk kamar dia mengatakan, “begitu masuk kamarku kamu jangan kaget ya. Nanti akan aku ceritakan seluruhnya sama kamu. Dan maaf aku mungkin terlambat menceritakannya sama kamu karena dua bulan terakhir ini kamu susah sekali ditemui.” Aku bingung mendengar ucapan Novi, meskipun akhirnya aku mengangguk mengiyakan dan tersenyum.

Benar saja apa yang dibilang Novi, aku sangat kaget begitu kamar Novi dibuka. Kamar yang biasanya rapih itu berantakan karena begitu banyak kertas yang berserakan. Yang lebih mengagetkan adalah kertas itu bukan kertas biasa tapi terlihat seperti undangan. Aku melihat Novi tak percaya. Empunya kamar hanya memberikan senyuman yang membuatku bingung dan penasaran.

Aku masuk dan tanpa ijin aku mengambil satu lembar kertas yang memang ternyata benar undangan itu. Tak perlu waktu lama, sedetik kemudian setelah aku membaca nama yang tertera dalam undangan itu, tubuhku terasa lunglai dan hampir-hampir jatuh jika aku tak menemukan pegangan pada kursi belajar Novi. Hatiku serasa dihantam palu godam dan remuk tak beraturan. Aku memejamkan mata, meyakinkan diri. Apakah ini benar kenyataan ataukah hanya mimpi. Dan saat aku membuka mata kembali, lagi nama itu tertera di undangan dan tak berubah. Baru aku yakin bahwa itu adalah nyata.

Aku berbalik memandang Novi yang sumringah memandangku. Entah bagaimana, pelupuk mataku mulai panas karena air mata, hampir-hampir aku tidak bisa menahannya. Dia memelukku sekali lagi. Namun kini giliranku yang menangis dipelukannya.

“Selamat ya Nov. Ya Allah aku nggak nyangka kamu secepat ini.” Ucapku tergugu sambil menahan tangis.

“Iya Lea, aku juga gak nyangka. Do’ain ya semoga lancar. Hanya tinggal dua minggu lagi” katanya dengan penuh kebahagiaan.

Sempurna sore dan malam itu aku mendengarkan segala cerita dari Novi. Mendengar kabar bahagianya yang akan menikah dalam waktu dua minggu ke depan. Mendengar kisahnya saat awal taaruf dan perkenalan keluarga, serta cerita-cerita lainnya tentang persiapan pernikahannya. Lantas aku hanya bisa mendengarkan, karena apa yang ingin aku ceritakan sore itu sempurna hilang dari otakku.

.::.

Rintik hujan terdengar dari atap rumah. Udara semakin dingin dan menyusup ke tulang. Namun bagiku itu semua tak penting. Saat ini aku hanya ingin bercerita. Kembali bercerita apa yang tak bisa aku ceritakan dua minggu yang lalu.

Hari ini aku ingin bercerita, bukan pada Novi tapi pada Sang Pemilik Hati. Tak perlu ada lagi yang ditahan, aku hanya ingin menumpahkan segalanya. Tentang hati dan perasaanku, tentang Kak Ahmad, tentang Novi, dan tentang undang warna merah jambu yang terukir di atasnya nama ‘Novia Arizky dan Ahmad Arif Rohman’.

Di sepertiga malam ini aku hanya ingin bersimpuh. Mengadu. Memohon ampunan. Memohon keikhlasan. Memohon kesabaran. Memohon kebaikan. Namun aku hanya bisa mendesah, “Rabbi… Rabbi…”

Lalu semuanya tiba-tiba menjadi gelap…

 

Bogor, dibawah rintik hujan sepertiga malam

23/01/2015 4.05 wib

(ya)